WAHYU DALAM ILMU KALAM

kaligrafi

Dikatakan wahaitu ilaihi atau auhaitu bila kita berbicara kepada seseorang agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan anggota badan.

Al-wahyu adalah kata masdar/infinitif, dan materi kata itu menunjukkan dua dasar, iaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, maka dikatakan bahawa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus diberikan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi, kadang-kadang juga bahawa yang dimaksudkan adalah al-muha, iaitu pengertian isim maf’ul yang diwahyukan.

Pengertian wahyu dalam erti bahasa meliputi:

Ilham, sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa, “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia …’.” (Al-Qashash: 7).

Ilham berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah, “Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia’.” (An-Nahl: 68).

Isyarat yang cepat melalui rumus dan kod, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Alquran, “Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka, ‘Hendaknya kamu bertasbih di waktu pagi dan petang’.” (Maryam: 11).

Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. “Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (Al-An’am: 121). “Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, iaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu mereka.” (Al-An’am: 112).

Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan.

“Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman’.” (Al-Anfal: 12).

Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar’i mereka definisikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, iaitu almuha (yang diwahyukan). Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid adalah pengetahuan yang didapati oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahawa pengetahuan itu datang dari Allah, melalui perantara ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beza antara wahyu dengan ilham adalah bahawa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih, dan senang.

Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bahagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf, tetapi pembezaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal ini.

Perkembangan ilmiah telah maju dengan pesat, dan cahayanya pun telah menyapu segala keraguan yang selama ini merayap dalam diri manusia mengenai roh yang ada di balik materi. Ilmu materialistis yang meletakkan sebahagian besar yang ada di bawah percubaan dan eksperimen percaya terhadap dunia ghaib yang ada di sebalik dunia nyata ini, dan percaya pula bahawa dunia ghaib lebih rumit dan lebih dalam daripada dunia nyata ini, dan bahawa sebahagian penemuan moden yang membimbing fikiran manusia menyembunyikan rahsia yang samar, yang hakikatnya tidak dapat difahami oleh ilmu itu sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya dapat diamati. Hal yang demikian ini telah mendekatkan jarak antara pengingkaran terhadap agama-agama dengan keimanan. Dan itu sesuai dengan firman Allah, “Akan kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa Alquran itu benar adanya.” (Fushilat: 35).

“Dan, tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra: 85).

Kemungkinan Terjadinya Wahyu

Pembahasan psikologi dan rohani kini mempunyai tempat yang penting dalam ilmu pengetahuan. Hal itu pun didukung dan diperkuat oleh perbezaan manusia dalam kecerdasannya, kecenderungannya, dan nalurinya. Di antara intelijensia itu ada yang istimewa dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala hal yang baru. Tetapi, ada pula yang dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Di antara dua posisi ini terdapat sekian banyak tingkatan. Demikian pula halnya dengan jiwa, ada yang jernih dan cemerlang, ada pula yang kotor dan kelam.

Di balik tubuh manusia ada roh yang merupakan rahsia hidupnya. Tubuh itu kehabisan tenaga dan jaringan-jaringan mengalami kerosakan jika tidak mendapatkan makanan menurut kadarnya. Demikian pula roh, ia memerlukan makanan yang dapat memberikan tenaga rohani agar dapat memelihara sendi-sendi dan ketentuan-ketentuan lainnya.

Bagi Allah bukan hal yang jauh dalam memilih dari antara hamba-hamba-Nya sejumlah jiwa, yang dasarnya begitu jernih dan kudrat yang lebih bersih, yang siap menerima sinar ilahi dan wahyu dari langit serta hubungan dengan makhluk yang lebih tinggi, agar kepadanya diberikan risalah ilahi yang dapat memenuhi keperluan manusia. Mereka mempunyai ketinggian perasaan dan keluhuran budi, dan kejujuran dalam menjalankan hukum. Mereka itulah para rasul dan nabi Allah. Maka, tidaklah aneh bila mereka berhubungan dengan wahyu yang datang dari langit.

Manusia kini menyaksikan adanya hipnotisme yang menjelaskan bahawa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang pada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemahuan lebih kuat dapat memaksakan kemahuannya kepada orang yang lebih lemah, sehingga yang lemah ini tertidur pula, dan ia kemudian menuruti kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan. Maka, mengalirlah semua itu ke dalam hati dan mulutnya. Apabila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana dengan yang lebih kuat dari manusia itu?

Sekarang orang dapat mendengar suara yang dirakam dan dibawa oleh gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, lautan, dan daratan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telefon, sekalipun yang seorang berada di hujung timur dan seorang yang lain berada di hujung barat, dan terkadang pula mereka berdua saling melihat dalam percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak mengetahui sesuatu melainkan dengingan seperti suara lebah, persis seperti dengingan pada waktu turun wahyu.

Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri, dalam keadaan sedar atau tidur, yang pernah terlintas dalam fikirannya tanpa melihat orang yang diajak berbicara di hadapannya. Yang demikian ini serta contoh-contoh lain yang serupa cukup menjelaskan kepada kita tentang hakikat wahyu.

Orang yang sezaman dengan wahyu menyaksikan wahyu dan menukilnya secara mutawatir dengan segala persyaratan yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya. Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya di dalam budaya bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan tetap menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta hina bila sudah mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tidak dapat diragukan lagi. Untuk itu, manusia harus kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwanya yang haus akan nilai-nilai luhur.

Rasul kita, Muhammad, bukan rasul pertama yang diberi wahyu. Allah juga telah memberikan wahyu kepada rasul-rasul sebelumnya. Seperti firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah menyampaikan wahyu kepadamu seperti Kami telah menyampaikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah menyampaikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Dan Kami telah mengutus rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An-Nisa: 163–164).

“Patutkah menjadi kehairanan bagi manusia bahawa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, ‘Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahawa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka?’ Orang-orang kafir berkata, ‘Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah benar-benar tukang sihir yang nyata’.” (Yunus: 2).

FUNGSI WAHYU DALAM ILMU KALAM

www.rustamlengkas.com

Mengenai soal Tuhan, kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, tetapi mereka tetap berpendapat bahwa Tuhan mengetahui, berkuasa, melihat, mendangar dan sebagainya. Hanya apa yang disebut sifat oleh golongan lain, bagi mereka adalah esensi Tuhan, dan untuk menggambarkan hal itu, mereka tetap memakai kata “sifat”. Dalam faham mereka, semua “sifat” Tuhan dapat diketahui. Termasuk dalamnya “sifat-sifat” mendengar dan melihat yang menurut aliran lain dapat diketahui hanya melalui wahyu. Argumen yang dimajukan dalam hal ini ialah : karena Tuhan hidup dan karena Ia suci dari segala kekurangan, maka Ia mesti mempunyai pendengaran dan penglihatan. Kalau untuk mengetahui Tuhan dan sifat-sifatNya, Wahyu dalam pendapat kaum Mu’tazilah, tidak mempunyai fungsi apa-apa, untuk mengetahui cara memuja dan menyembah Tuhan, wahyu diperlukan. Akal betul dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, tetapi wahyulah yang menerangkan kepada manusia cara yang tepat menyembah Tuhan. Bagi kaum Mu’tazilah, tidak semua yang baik dan tidak semua yang buruk dapat diketahui akal. Untuk mengetahui hal tersebut, akal memerlukan pertolongan wahyu. Dengan demikian wahyu menyempurnakan akal tentang baik dan buruk. Selanjutnya wahyu bagi kaum Mu’tazilah mempunyai fungsi memberi penjelasan tentang perincian hukuman dan upah yang diterima manusia diakhirat. Akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan yang lain ; demikian pula akal tak dapat mengetahui bahwa hukuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua ini hanya dapat diketahui dengan perataraan wahyu. Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa wahyu bagi kaum Mu’tazilah mempunyai fungsi kompirmasi dan informasi. Selanjutnya menurut al-Syahrastani, fungsi wahyu ialah mengingatkan manusia akan kelalaian mereka dan memperpendek jalan untuk mengetahui Tuhan. Jadi akal telah tahu pada Tuhan dan telah tahu akan kewajiban terhadap Tuhan, dan wahyu datang untuk mengingatkan manusia pada kewajiban itu. Akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi melalui jalan yang panjang, dan wahyu memperpendek jalan yang panjang itu. Bagi kaum al-Asy’ari, karena akal dapat mengetahui hanya adanya Tuhan saja, wahyu mempunyai kedudukan penting. Manusia mengetahui baik dan buruk dan mengetahui kewajiban-kewajiban hanya karena turunnya wahyu. Dengan demikian, sekiranya wahyu tidak ada, manusia tidak akan mengetahui kewajiban-kewajibannya. Sekiranya syari’at tidak ada, kata al-Ghazali manusia tidak akan berkewajiban mengetahui Tuhan, dan tidak akn berkewajiban berterima kasih kepadaNya. Sebagai kesimpulan dari uraian mengenai fungsi wahyu ini, dapat dikatakan bahwa wahyu mempunyai kedudukan terpenting dalam aliran Asy’ariyah, dan fungsi terkecil dalam faham Mu’tazilah. Bertambah besar fungsi diberikan kepada wahyu dalam sesuatu aliran, bertambah kecil daya dalam aliran itu. Akal dalam usaha memperoleh pengetahuan, bertindak atas usaha dan daya sendiri dan dengan demikian menggambarkan kemerdekaan dan kekuasaan manusia. Wahyu sebaliknya, menggambrkan kelemahan manusia, karena wahyu diturunkan Tuhan untuk menolong manusia untuk memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, dalam sistem teologi, memberikan daya terbesar akal dan fungsi terkecil kepada wahyu, manusia dipandang mempunyai kekuasaan dan kemerdekaan. Tetapi dalam sistem teologi, yang memberikan daya terkecil kepada akal dan fungsi terbesar kepada wahyu, manusia dipandang lemah, dan tidak merdeka. Tegasnya, manusia dalam aliran Mu’tazilah dipandang berkuasa dan merdeka, sedangkan manusia dalam aliran Asy’ariah dipandang lemah dan jauh kurang merdeka. Dalam aliran Maturidiah, manusia mempunyai kedudukan menengah diantara manusia pandangan Mu’tazilah dan Asy’ariah.

MAKALAH AKAL DAN WAHYU

wildaznov11.blogspot.coM

PENDAHULUAN
Puji syukur kepada Allah Rabb semesta alam yang telah banyak mencurahkan rahmat dan juga serta kasih sayangnya kepada penduduk bumi sehingga Islam masih menjadi pondasi yang kokoh dalam diri pribadi manusia. Shalawat serta salam tak lupa kita hadiahkan kepada nabi Muhammad SAW juga beserta para sahabatnya yang istiqomah memperjuangkan Islam, semua ini tiada lain adalah hasil dari akal dan wahyu yang selalu berdampingan dalam memberikan petunjuk kepada manusia itu sendiri, karena pemahaman yang baik akan melahirkan keistiqomahan, sudut pandang yang baik dan juga ahlak yang baik. Dan dengan akal jua manusia bisa menjadi ciptaan pilihan yang allah amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini, begitu juga dengan wahyu yang dimana wahyu adalah pemberian allah yang sangat luar biasa untuk membimbing manusia pada jalan yang lurus.
Semua aliran teologi dalam islam baik asy,ariyah maturidiyah apalagi mu’tazilah sama-sama mempergunakan akal dalam menyelesaikan persoalan-persoalan teologi yang timbul dikalangan umat Islam perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu ialah perbedaan derajat dalam kekuatan yang diberikan kepada akal, kalau mu’tazilah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat, As’ariyah sebaliknya akal mempunyai daya yang lemah.
Akal dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, dialah yang memberikan perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang kholiq, akal pun harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga mnghasilkan budi pekrti yang sangat mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan juga tujuan dari baginda rasulullah SAW.
Semua aliran juga berpegang kepada wahyu , dalam hal ini yang terdapat pada aliran tersebut adalah hanya perbedaan dalam intrpretasi. Mengenai teks ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, perbedaan dalam interpretasi inilah, sebenarnya yang menimbulkan aliran-aliran yang berlainan itu tentang akal dan wahyu. Hal ini tak ubahnya sebagai hal yang terdapat dalam bidang hukum Islam atau fiqih.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakteristik Wahyu[1]
1. Wahyu baik berupa Al-qur’an dan Hadits bersumber dari tuhan, Pribadi nabi Muhammad yang menyampaikan wahyu ini, memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu.
2. Wahyu mmerupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpa mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum atau khusus.
3. Wahyu itu adalah nash-nash yang berupa bahasa arab dengan gaya ungkap dan gaya bahasa yang berlaku.
4. Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal.
5. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.
6. Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan.
7. Sesungguhnya wahyu yang berupa al-qur’an dan as-sunnah turun secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.
B. Pentingnya Akal.[2]
1. Akal menurut pendapat Muhammad Abduh adalah sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain.
2. Akal adalah tonggak kehidupan manusia yang mendasar terhadap kelanjutan wujudnya, peningkatan daya akal merupakan salah satu dasar dan sumber kehidupan dan kebahagiaan bangsa-bangsa.
3. Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.
C. Kekuatan akal[3]
1. Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya.
2. Mengetahui adanya hidup akhirat.
3. Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesngsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat.
4. Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan.
5. Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia mnjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
6. Membuat hukum-hukum mengnai kwajiban-kwajiban itu.
D. Kekuatan wahyu[4]
1. Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2. Membuat suatu keyakinan pada diri manusia
3. Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib.
4. Wahyu turun melalui para ucapan nabi-nabi.
E. Akal dan Wahyu Menurut beberapa Aliran[5]
Masalah akal dan wahyu dalam pemikiran kalam dibicarakan dalam konteks, yang manakah diantara kedua akal dan wahyu itu yang menjadi sumbr pengetahuan manusia tentang tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada tuhan, tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk.
Aliran Mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal mmpunyai kemampuan mengetahui empat konsep tersebut. Sementara itu aliran Maturidiyah Samarkand yang juga termasuk pemikiran kalam tradisional, mengatakan juga kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan yang buruk akan mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal tersebut.
Sebaliknya aliran Asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional juga berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui tuhan sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih kepada tuhan, baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu. Sementara itu aliran maturidiah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikiran kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut yakni mengetahui tuhan dan mengetahui yang baik dan buruk dapat diketahui dngan akal, sedangkan dua hal lainnya yakni kewajiaban berterima kasih kepada tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk hanya dapat diketahui dengan wahyu.
Aadapun ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh paham Maturidiyah Samarkand dan mu’tazilah, dan terlebih lagi untuk menguatkan pendapat mereka adalah surat as-sajdah, surat al-ghosiyah ayat 17 dan surat al-a’rof ayat 185. Di samping itu, buku ushul fiqih berbicara tentang siapa yang menjadi hakim atau pembuat hukum sebelum bi’sah atau nabi diutus, menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat pembuat hukum adalah akal manusia sendiri . dan untuk memperkuat pendapat mereka dipergunakan dalil al-Qur’an surat Hud ayat 24.
Sementara itu aliran kalam tradisional mngambil beberapa ayat Al-qur’an sebagai dalil dalam rangka memperkuat pendapat yang mereka bawa . ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 surat al-isro, ayat 134 surat Taha, ayat 164 surat An-Nisa dan ayat 18 surat Al-Mulk.
F. Fungsi wahyu[6]
Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Bagi alran kalam tradisional, akal manusia sudah mengetahui empat hal, maka wahyu ini berfungsi memberi konfirmasi tentang apa yang telah dijelaskan oleh akal manusia sebelumnya. Tetapi baik dari aliran Mu’tazilah maupun dari aliran Samarkand tidak berhenti sampai di situ pendapat mereka, mereka menjelaskan bahwa betul akal sampai pada pengetahuan tentang kewajiban berterima kasih kepada tuhan serta mengerjakan kewajiban yang baik dan menghindarkan dari perbuatan yang buruk, namun tidaklah wahyu dalam pandangan mereka tidak perlu. Menurut Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand wahyu tetaplah perlu.
Wahyu diperlukan untuk memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat. Sementara itu, bagi bagi aliran kalam tradisional karena memberikan daya yang lemah pada akal fungsi wahyu pada aliran ini adalah sangat besar. Tanpa diberi tahu oleh wahyu manusia tidak mengetahui mana yang baik dan yang buruk, dan tidak mengetahui apa saja yang menjadi kewajibannya.
Selanjutnya wahyu kaum mu’tazilah mempunyai fungsi memberi penjelasan tentang perincian hukuman dan upah yang akan diterima manusia di akhirat. Abu Jabbar berkata akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian pula akal tak mengetahui bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhirat.
Dari uraian di atas dapatlah kiranya disimpulkan bahwa wahyu bagi Mu’tazilah mempunyai fungsi untuk informasi dan konfirmasi, memperkuat apa-apa yang telah diketahui akal dan menerangkan apa-apa yang belum diketahui akal. Dan demikian menyempurnakan pengtahuan yang telah diperoleh akal.
Bagi kaum Asy’ariyah akal hanya dapat mengetahui adanya tuhan saja, wahyu mempunyai kedudukan yang sangat penting. Manusia mengetahui yang baik dan yang buruk, dan mengetahui kewajiban-kewajibannya hanya turunnya wahyu. Dengan demikian sekiranya wahyu tidak ada, manusia tidak akan tahu kewajiban-kewajibannya kepada tuhan, sekiranya syariatnya tidak ada Al-Ghozali berkata manusia tidak aka ada kewajiban mengenal tuhan dan tidak akan berkewajiban berterima kasih kepadanya atas nikmat-nikmat yang diturunkannya. Demikian juga masalah baik dan buruk kewajiban berbuat baik dan mnghindari perbuatan buruk, diketahui dari perintah dan larangan-larangan tuhan. Al-Baghdadi berkata semuanya itu hanya bisa diketahui menurut wahyu, sekiranya tidak ada wahyu tak ada kewajiban dan larangan terhadap manusia.
Jelas bahwa dalam aliran Asy’ariyah wahyu mempunyai fungsi yang banyak sekali, wahyu yang menentukan segala hal, sekiranya wahyu tak ada manusia akan bebas berbuat apa saja, yang dikehendakinya, dan sebagai akibatnya manusia akan berada dalam kekacauan. Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat, dan demikianlah pendapat kaum Asy’ariyah. Al-Dawwani berkata salah satu fungsi wahyu adalah memberi tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. Oleh karena itu pengiriman para rosul-rosul dalam teologi Asy’ariyah seharusnya suatu keharusan dan bukan hanya hal yang boleh terjadi sebagaimana hal dijelaskan olh Imam Al-Ghozali di dalam al-syahrastani.
Adapun aliran Maturidiyah bagi cabang Samarkand mempunyai fungsi yang kurang wahyu tersebut, tetapi pada aliran Maturidiyah Bukhara adalah penting, bagi Maturidiyah Samarkand perlu hanya untuk mengetahui kewajiban tentang baik dan buruk, sedangkan bagi Maturidiyah Bukhara wahyu perlu untuk mengetahui kwajiban-kewajiban manusia.[7] Oleh Karena itu di dalam system teologi yang memberikan daya terbesar adalah akal dan fungsi terkecil kepada wahyu, manusia dipandang mempunyai kekuasaan dan kemerdekaan.tetapi di dalam system teologi lain yang memberikan daya terkecil pada akal dan fungsi terbesar pada wahyu. Manusia dipandang lemah dan tak merdeka.
Tegasnya manusia dalam pandangan aliran Mu’tazilah adalah berkuasa dan merdeka sedangkan dalam aliran Asy’ariyah manusia lemah dan jauh dari merdeka.

Di dalam aliran maturidiyah manusia mempunyai kedudukan menengah di antara manusia dalam pandangan aliran Mu’tazilah, juga dalam pandangan Asy’ariyah. Dan dalam pandangan cabang Samarkand manusia lebih berkuasa dan merdeka dari pada manusia dalam pandangan cabang Bukhara. Dalam teologi Maturidiyah Samarkand, yang juga memberikan kedudukan yang tinggi pada akal, tetapi tidak begitu tinggi dibandingkan pendapat Mu’tazilah, wahyu juga mempunyai fungsi relatif banyak tetapi tidak sebanyak pada teologi Asy’ariyah dan maturidiyah Bukhara.

BAB III
PENUTUP

Demikianlah akal dan wahyu yang kami bahas dalam pandangan aliran Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah Samarkand ataupun maturidiyah Bukhara, mereka semua aliran mempunyai pendapat masing-masing dalam memberikan pendapat tentang akal dan wahyu, dan dari penutup inilah penulis menyarankan agar lebih teliti lagi dalam mambaca apa yang ada dalam presentasi kami, dan apabila banyak kesalahan dalam pembahasan sekiranya dapat dimaklumi dikarenakan kapasitas kemampuan kami yang sangat terbatas pada kajian kami ini.lalu kami dari yang meprentasikan iani dapat mnari benang merah dari kajian ini yaitu :
1. Wahyu mempunyai kedudukan yang sangat pnting dalam aliran Asy’ariyah dan mmpunyai fungsi kecil pada aliran mu’tazilah.
2. Mu’tazilah adalah paham yang beraliran rasional artinya lbih mnguatkan pendapat akal dibandingkan wahyu.
3. Asy’ariyah menjadikan wahyu mempunyai kedudukan penting dalam alirannya disbanding akal.
4. Maturidiyah Bukhara bahwa wahyu dan akal saling berdampingan dan saling menguatkan dengan kata lain kedudukan wahyu dan akal adalah seimbang.
5. Maturidiyah Samarkand bahwa akal lebih tinggi disbanding kedudukan wahyu dengan kata lain sama dengan pendapat aliran Mu’tazilah tentang kedudukan wahyu dan akal.

BAB IV
REFERENSI

1. Yunan Yusuf, M, Alam Pemikiran Islam Pemikiran Kalam, Jakarta; Perkasa Jakarta 1990.
2. Rozak, Abdul, Dkk, Ilmu Kalam, Bandung; CV. Pustaka, 2003.
3. Nasution, Harun, Teologi Islam Dan Aliran Analisa Perbandingan, Jakarta; Universitas Indonesia, (UI-Press) 1986.
4. Al-Majid. Al-Najjar. Pemahaman Islam, PT. Remaja Rodsakarya, Bandung; 1997.
5. Nasution, Harun, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakata’ 1987.
[1] DR. ABD. Al-majid Al- najjar. Pemahan Islam hal 19.
[2] Harun Nasution teologi rasional mu’tazilah dan Muhammad abduh hal 44.
[3] Ibid hal 44.
[4] Ibid hal 44.
[5] Yunan Yusuf alam pemikiran islam ilmu kalam. Hal 65.
[6] Ibid hal 65.
[7] Harun Nasution Teologi Islam Aliran – Aliran Analisa perbandingan hal 101

Wahyu menurutWahyu

http://www.al-shia.org/

Sebagaimana pengakuan al-Qur’an bahwa wahyu merupakan sebuah hakikat dan kebenaran dan dalam beberapa ayat al-Qur’an hal tersebut dinisbahkan kepada Nabi saw. Akan tetapi, al-Qur’an, dalam menjelaskan esensi wahyu, hanya sekedar mengisyaratkan saja dan tidak memaparkan sedetail mungkin. Al-Qur’an menyatakan: “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Qs. asy-Syu’araa’ ayat 192-194)

Dalam ayat lain menyatakan: “Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. al-Baqarah ayat 97)

Kedua ayat ini mengisyaratkan salah satu karakter penting wahyu, yaitu wahyu langsung turun  ke qalbu (hati) Nabi saw dan dikatakan bahwa Jibril as membawa al-Qur’an dan menyampaikan langsung ke dalam qalbu Nabi saw.

Merupakan perkara badihi (aksioma) bahwa bentuk pengajaran seperti ini berbeda dengan bentuk atau sistem pengajaran-pengajaran pada umumnya, karena ilmu husuli  manusia diperoleh melalui media panca indera. Pada mulanya dia, melalui indera ini, menjalin hubungan dengan dunia luar, kemudian apa saja yang diperoleh dari dunia luar masuk ke dalam indera musytarak, forma-forma yang ada dalam daya khayal serta makna-makna yang bersifat partikular dapat ditangkap atau dipahami melalui daya delusive (wahm), dan menyatu di dalam daya memori (haafizh). Ketika itu daya akal, dengan argumentasi dan dengan bentuk silogisme, memperoleh ilmu-ilmu husuli. Dan pada akhirnya masuk ke dalam hati dan jiwa  (nafs).

Sementara al-Qur’an menyatakan bahwa wahyu memiliki bentuk khusus dan berbeda, karena pada mulanya hakikat-hakikat ilmu itu secara langsung masuk ke dalam hati dan jiwa Nabi saw dan dari sini memancar ke suluruh elemen-elemen quwwah (daya, potensi).

Allamah Thabathabai Qs, dalam menafsirkan ayat di atas, menuliskan: yang dimaksud dengan qalb adalah nafs (jiwa) manusia, yang mana dia merupakan tempat berpijak dan media untuk menangkap dan memahami berbagai macam ilmu. Mungkin yang diinginkan dari menggunakan gaya pengucapan seperti ini: Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad), dan tidak menggunakan kata ‘alaika  adalah untuk sekedar mengisyaratkan ihwal kebagaimanaan dalam memperoleh wahyu al-Qur’an. Yakni penyampaian wahyu langsung ke dalam hati dan jiwa Nabi saw tanpa ada intervensi alat indera. Oleh karena itu, Nabi saw menyaksikan langsung malaikat dan mendengar wahyu, tanpa harus menggunakan panca inderanya. Karena kalau wahyu itu bisa dilihat dengan mata kepala dan didengar dengan telinga biasa, maka orang-orang yang hadir ketika wahyu itu turun akan menyaksikan dan mendengarkan pula suara malaikat Jibril as. Padahal tidak demikian adanya.[1]

Dalam tafsir Ruhul Bayan, yang dinukil dari kitab Kasyful  Asrar,  dinyatakan bahwa: ketika wahyu turun kepada Nabi saw, mulanya masuk ke dalam hati mulia Nabi saw, karena beliau saw sangat cinta dan tenggelam serta larut di alam gaib. Lantas kemudian dari hati pindah ke pemahaman dan ke telinga Nabi saw. Dan ini merupakan sebuah tanazzul (turun perlahan-lahan) dari maqam yang tinggi ke maqam yang lebih rendah dan ini juga merupakan karakter manusia-manusia khusus. Berbeda dengan kaum awam, pada mulanya dia mendengar dengan telinga kemudian masuk ke dalam pemahaman dan terakhir masuk ke dalam hatinya. Ahli suluk pun menggunakan metode seperti ini, yaitu mencari ilmu pengetahuan dari maqam paling bawah menuju ke maqam yang lebih tinggi. Dan betapa sebuah perbedaan yang begitu jauh antara keduanya.[2]

Oleh karena itu, wahyu merupakan sejenis ilmu yang sungguh luar biasa dan menakjubkan serta diperoleh melalui cara yang tidak biasa. Penyampaiannya tidak sama dengan penyampaian yang ada pada pengajaran-pengajaran yang terjadi di masyarakat umum dan juga metode tafakkur dan struktur silogisme yang  digunakan untuk memperolehnya sangat berbeda. Bahkan merupakan refleksi lansung seluruh hakikat ilmu ke dalam hati nurani dan qalb Rasulullah saw, dan memperolehnya merupakan sebuah kondisi perasaan atau persepsi batin yang berbeda dengan apa yang ada pada umumnya.

Allamah Thabathabai Qs menuliskan: “Para psikolog tidak ragu bahwa manusia memiliki unsur kesadaran jiwa dan batin yang mana nampak di sebagian pribadi-pribadi manusia dan dengan hal itu, terbukalah pintu alam gaib baginya. Dan dalam kondisi tersebut, tersingkaplah baginya berbagai ilmu dan pengetahuan yang mana ilmu dan pengetahuan tersebut lebih baik dan lebih tinggi dari pengetahuan yang diperoleh dari hasil berfikir. Sekelompok ilmuan dalam bidang ilmu jiwa dan juga para ilmuan Eropa seperti James dari inggris serta yang lain memaparkan akan adanya aspek kesadaran seperti ini. Oleh karena itu, wahyu yang turun kepada Nabi saw bukanlah berupa sebuah hasil tafakkur akal”.[3]

Di tempat lain beliau juga menuliskan: “Dari aspek ini tidak diragukan lagi bahwa wahyu merupakan sebuah perkara yang luar biasa, sejenis persepsi dan kesadaran batin yang mana indera kita tidak bisa mencapai hal itu, namun akal tidak bisa menafikan dan tidak bisa memustahilkan keberadaan perkara yang luar biasa seperti ini”.[4]

Ada satu lagi ciri khas wahyu yaitu menyaksikan malaikat melalui hati mulia Nabi saw, sebagaimana yang diisyaratkan ayat al-Qur’an beriktu ini:

“Maa kadzaba al fuaadu maa ra’aa”,  ru’yat al fuaad disini dinisbahkan kepada hati dan jiwa yaitu yang dimaksud adalah menyaksikan malaikat Jibril as melalui perantara jiwa dan hati. Kalimat-kalimat  seperti maa yaraa dan wa laqad ra’aahu nazlatan ukhra juga memiliki makna yang sama dengan kata di atas, yaitu penyaksian melalui hati dan qalbu. Demikian pula kata bashara dalam kalimat maa zaagha al basharu memiliki makna mata hati. (Qs. An- Najm ayat 1-18)

Allamah Thabathabai, dalam menafsirkan ayat di atas, menuliskan bahwa: “Makna maa kadzaba al fuaadu maa ra’aa adalah apa yang disaksikan Nabi saw dengan qalbunya merupakan sebuah kebenaran dan bukan kebohongan. Tentunya, penisbahan ru’yat kepada penyaksian melalui fu’aad (hati) sudah biasa dan lumrah, karena manusia, selain memiliki persepsi melalui indera lahiriah dan daya pikir serta  kemampuan berimajinasi, juga memiliki persepsi syuhudi yang mana hal itu bukan indera lahiriah dan juga bukan indera batin. Kita dapat merasakan atau memahami dalam diri ini terdapat hal-hal seperti mendengar, mencium, mengecap, dan meraba dan demikian juga kita menyaksikan adanya daya khayal dan tafakkur dalam diri ini, padahal kita tahu bahwa indera lahiriah dan batiniah kita tidak turut campur tangan di dalam persepsi ini.

Dan begitu pula forma-forma, yang dengan melalui daya-daya itu, bisa ditangkap dan dipahami dan kita juga memahami tentang cara kerja persepsi tersebut, namun pemahaman dan persepsi kita itu bukan melalui daya-daya tersebut, akan tetapi melalui perantara nafs (jiwa) yang mana ayat yang disebutkan di atas mengistilahkannya dengan fu’aad. [5]

Wahyu dalam Hadis

Sangat disayangkan karena kita tidak memiliki hadits-hadits yang menjelaskan tentang esensi wahyu secara baik. Dalam kesempatan ini kita hanya sekedar mengisyaratkan saja. Diantaranya:

Harits bin Hisyam mengutarakan pertanyaan kepada Nabi saw: “Bagaimana wahyu itu datang kepada anda? Beliau menjawab: Terkadang dimulai dengan suara yang menyerupai suara gemerincing (bel), dan ini bentuk wahyu yang paling berat. Ketika suara itu terputus, apa yang telah disampaikan dan dikatakan langsung ada dalam memori saya. Terkadang juga malaikat datang kepada saya dengan menyerupai seorang laki-laki dan berkata kepadaku. Lalu saya menghafal apa yang dikatakannya”.[6]

Abdullah bin Umar berkata: Saya mengutarakan pertanyaan kepada Rasulullah saw: Apakah anda merasakan wahyu itu? Beliau saw menjawab: Iya, saya merasakannya sama seperti suara gemerincing (bel) lantas saya diam. Setiap kali wahyu datang kepadaku, karena begitu dahsyatnya, saya mengira nyawa dan ruhku telah melayang.[7]

Dari kedua hadits ini, dapat dipahami bahwa wahyu itu terjadi kadang dimulai dengan terdengar suara yang menyerupai suara gemerincing (bel), dan ini merupakan jenis wahyu yang paling berat. Dan kadang dalam bentuk malaikat yang menjelma sesuatu (misalnya menjelma seperti seorang pemuda) dan berbicara.

Bentuk-bentuk Wahyu

Terdapat tiga bentuk wahyu dan percakapan Allah swt dengan Nabi saw, sebagaimana yang diisyaratkan al-Qur’an:

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Syuura ayat 51)

1. Bentuk pertama; percakapan khafii (tersembunyi) dan tanpa ada perantara antara Allah swt dengan Nabi Muhammad saw. Kata yang mengisyaratkan hal ini pada ayat tersebut adalah kata illaa wahyan. Percakapan Allah swt pada bentuk kedua  diukur atau dibatasi dengan kalimat min waraai hijaabin pada ayat tersebut dan pada bentuk ketiga diukur atau dibatasi oleh kalimat auw yursila rasuulan, berbeda dengan bentuk pertama illa wahyan yang mana tidak memiliki suatu ukuran dan batasan. Dengan demikian, ia merupakan sebuah percakapan kilat dan khafii (tersembunyi) serta tanpa ada media perantara. Bentuk wahyu seperti ini kadang terjadi ketika –Nabi saw – sedang terjaga (terbangun), sebagaimana yang telah dijelaskan tadi. Dan kadang terjadi ketika sedang tertidur.

Dari sebagian hadits dapat dipahami bahwa nubuwwah (kenabian) sebagian nabi adalah bentuknya seperti berikut; yaitu ilmu, pengetahuan, dan tugas-tugasnya disampaikan dan diwahyukan dengan sangat jelas ke dalam hati dan kalbu mereka ketika mereka sedang dalam keadaan tidur dan mereka, para nabi itu menyaksikan dan mendengar seluruh hakikat dan kebenaran tersebut.

Sebagian dari para nabi, pada awal mula kepengutusannya, menerima wahyu dalam bentuk sepeti ini; yaitu secara bertahap, sehingga pada nantinya dia sudah siap untuk menerima wahyu dalam bentuk mustaqim (langsung). Imam Baqir As bersabda: “Bentuk (penerimaan wahyu) para nabi itu ada lima: sebagian dari mereka (kelompok pertama) mendengar suara wahyu itu sama seperti suara rantai besi, dan dengan wasilah ini mereka mendapatkan dan memahami makna-makna dan materi-materi pokok; sebagiannya lagi (kelompok kedua) memperoleh wahyu dalam keadaan sedang tidur, seperti Nabi Yusuf As dan Nabi Ibrahim As; sebagian lagi (kelompok ketiga) memperoleh wahyu dengan melihat dan menyaksikan malaikat pembawa wahyu; kelompok keempat dan kelima adalah mereka yang seluruh hakikat ilmu pengetahuan itu disampaikan melalui hati dan kalbu atau telinga mereka”. [8]

Zurarah bertanya kepada Imam Baqir As: “Siapakah yang dimaksud rasul, nabi, dan muhaddats? Beliau As menjawab: Yang dimaksud dengan rasul adalah orang yang didatangi oleh malaikat Jibril As dalam bentuk lahiriah dan menyaksikannya serta bercakap-cakap dengannya. Dan Nabi adalah orang yang diberi wahyu ketika sedang tidur. Seperti yang disaksikan Nabi Ibrahim As dalam tidurnya dan juga yang disaksikan Nabi Muhammad saw sebelum bi’tsah  sampai ketika Jibril As datang dari Allah swt membawa wahyu untuk beliau saw. Ketika terjadi integrasi antara maqam kenabian dan risalah kenabian pada dirinya maka Jibril As datang kepada beliau dan berbicara kepadanya. Sebagian para nabi didatangi malaikat ketika sedang tidur dan berbicara serta bercakap-cakap dengan mereka tanpa menyaksikannya ketika terjaga. Adapun muhaddats adalah orang yang diajak bicara dan dikatakan sesuatu (hadits) kepadanya lalu dia mendengar sesuatu tersebut, akan tetapi dia tidak menyaksikan dan melihatnya, baik ketika terjaga maupun ketika sedang tertidur”.[9]

Adapun ihwal Nabi saw, beliau saw sebelum bi’tsah kadang bermimpi tentang berbagai macam hakikat dan kebenaran, yang mana kebenarannya sangat jelas dan sempurna.

Aisyah berkata: Paling pertama dari tahap kenabian Muhammad saw, ketika Allah swt menghendaki kemuliaan dia dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya adalah mimpi-mimpi baik dan benar. Beliau saw tidak bermimpi kecuali yang dilihat itu adalah seperti cahaya putih di pagi hari yang terang.[10]

Halabi menuliskan: Wahyu yang turun kepada Nabi saw dimulai dengan cara lewat mimpi sampai pada saat beliau saw siap untuk menyaksikan malaikat Jibril As dan menerima wahyu darinya, karena menyaksikan Jibril As dan mendengarkan suaranya serta menerima wahyu adalah sebuah perkara yang sangat sulit dan berat[11]. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan oleh Amirulmukminin Ali As: Mimpi para nabi As adalah salah satu bentuk wahyu. [12]

Tentunya mimpi para nabi As dengan mimpi manusia biasa memiliki perbedaan yang sangat jauh. Mimpi para nabi merupakan sebuah bentuk musyahadah (penyaksian) terhadap berbagai macam hakikat dan kebenaran secara jelas dan terang; yang mana hal tersebut memiliki kesesuaian dengan realitas luar. Padanya tidak ada jalan bagi khayalan-khayalan dan godaan-godaan setan, karena ketika mereka sedang tidur kalbu dan hatinya selalu terjaga dan sadar, meskipun mata dan telinga mereka sama seperti manusia-manusia lain ketika sedang tidur.

Rasulullah saw bersabda: Mata kami tertutup dibawa tidur, namun hati-hati kami selalu terjaga dalam segala kondisi, kami bisa menyaksikan apa yang ada dibelakang sama seperti kami menyaksikan apa yang ada di depan kami”. [13]

2. Bentuk kedua; wahyu datang dari balik tabir, yang dalam istilah al-Qur’an disebut min waraai hijaabin. Pada bentuk wahyu ini, Allah swt berbicara dengan Nabi saw tanpa perantara malaikat. Nabi saw pun mendengar kalam Allah swt, namun kalam Allah swt itu muncul dari sebuah tempat khusus atau sesuatu yang khusus. Seperti yang terjadi pada Nabi Musa as ketika berdialog dengan pohon.

Al-Qur’an mengatakan: “Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari arah pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi, “Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam.”  (Qs. Al-Qashash ayat 30)

Seperti yang anda saksikan pada ayat di atas bahwa Allah swt berbicara melalui pohon tersebut. Pada dasarnya suara itu, tanpa perantara malaikat as, bersumber dari Allah swt, akan tetapi kedengarannya datang dari pohon tersebut.

Allamah Thabathabai (qs) menuliskan: Pada bentuk wahyu ini terdapat sebuah perantara yang dikenal dengan istilah hijab atau tabir, namun media ini tidak berbicara, tapi suara itu muncul dan terdengar dari balik hijab atau tabir tersebut. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud di balik tabir disini bukan di belakang kita, akan tetapi yang dimaksud adalah di luar sesuatu dan meliputi hal tersebut; sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qur’an: wallahu min waraaihim muhith .[14]

3. Bentuk Ketiga; bentuk wahyu yang ketiga ini terjadi melalui perantara malaikat Jibril As, sebagaimana yang diisyaratkan ayat auw yursila rasulan fayuuhiya bi idznihi maa yasyaau  pada awal pembahasan.

Pada bentuk wahyu ini, hubungan antara Allah swt dengan nabi terjalin melalui perantara malaikat Jibril As. Malaikat Jibril As datang dari sisi Tuhan membawa ilmu pengetahuan, makrifat, serta pesan-pesan Ilahi, kemudian disampaikan ke dalam hati mulia nabi dan nabi pun mendengarnya melalui hati.

Harits bertanya kepada Nabi saw: Bagaimana wahyu itu turun kepada anda? Nabi saw bersabda: Kadang saya mendengar suara seperti suara gemerincing bel, dan ini sangat berat bagi saya. Ketika kondisi seperti ini berlalu, pesan yang disampaikan itu ada dalam hafalan saya. Dan kadang malaikat pembawa wahyu datang kepadaku dalam bentuk seorang laki-laki dan berdialog denganku. Dan aku merekam dan menghafal segala apa yang disampaikannya.[15]

Imam Shadiq As berkata: Bahwa ketika Jibril as turun kepada Nabi saw, malaikat Jibril As duduk seperti hamba ketika berhadapan dengan beliau saw dan tidak akan masuk tanpa izin dari beliau saw.[16]

Kadang malaikat Jibril as menyerupai seorang manusia yang berparas tanpan ketika turun kepada beliau saw dan hal ini paling sering terjadi dan kadang datang dalam bentuk aslinya, tapi hal ini jarang terjadi; paling tidak dua kali atau lebih. Pertama kali hal ini terjadi di saat wahyu pertama turun kepada Nabi saw di Goa Hira. Nabi saw melihat malaikat Jibril as dalam sebuah bentuk yang memenuhi antara timur dan barat, dan Nabi saw pingsan ketika menyaksikannya, lalu Jibril as menjelma menjadi manusia biasa dan merangkul Nabi saw, kemudian Nabi pun tersadar kembali.[17]

Kedua kalinya terjadi atas permintaan Nabi saw sendiri. Beliau saw meminta kepada Jibril as untuk menampakkan bentuk aslinya. Jibril as berkata: Anda tidak memiliki kemampuan untuk menyaksikannya. Beliau saw berkata: Saya senang dengan hal itu. Kemudian Nabi saw pergi ke mesjid pada malam bulan purnama. Lalu Jibril as menampakkan diri kepada beliau saw dalam bentuknya yang asli. Nabi saw pingsan ketika melihatnya tetapi kemudian beliau saw sadar.[18]

Perlu dipahami bahwa malaikat Jibril as -pada silsilah tahapan atau tingkatan nuzulul wahyu- memiliki dua maqam, yaitu maqam tabiat (natural) dan maqam hakikat (realitas). Ilmu pengetahuan dan makrifat yang datang dari sisi Allah swt harus melalui dan menempuh cara ini, dan bahkan juga dalam hal wahyu yang langsung dari Allah swt. Perbedaan tahapan-tahapan wahyu berada pada kadar tinggi dan naiknya jiwa dan nafs  Nabi saw. Kadang Nabi saw naik ke tingkat maqam malaikat wahyu, lantas beliau saw menyaksikan malaikat Jibril as dan mendengar ucapannya. Dan kadang Nabi saw naik ke maqam yang lebih tinggi dari itu, sehingga beliau tidak lagi menyaksikan malaikat Jibril as dan beliau saw mendengar ucapan itu langsung dari Allah swt. Namun demikian Jibril as tetap sebagai perantara.

Allamah Thabathabai –mengenai hal ini– menuliskan: Wahyu dari balik tabir atau wahyu melalui perantara malaikat Jibril as tidak memiliki pertentangan dengan percakapan langsung Allah swt. Karena, wahyu merupakan perbuatan (fi’il) Allah swt dan sama seperti perbuatan-perbuatan lainnya; yang mana terjadi dengan sebuah perantara. Perbedaan pada bentuk-bentuk wahyu berkisar pada kadar perhatian dan atensi mukhathab (lawan bicara).  Kalau perhatian dan atensi Nabi saw tertuju pada malaikat pembawa wahyu Ilahi –yakni Jibril as–  maka kalam Ilahi itu akan diperoleh dari malaikat Jibril as. Dan kalau perhatian Nabi saw tidak tertuju pada malaikat Jibril as maka kalam Ilahi itu akan didengar secara langsung dari Allah swt. Dan kalau perhatiannya tertuju pada sesuatu yang bukan pembawa wahyu, seperti pada pohon (kasus) Nabi Musa as, maka beliau saw akan mendengar wahyu itu dari balik tabir. Namun demikian, kedudukan Jibril as sebagai perantara wahyu Ilahi tetap terjaga.[19]

Malaikat Pembawa Wahyu

Agama-agama samawi menerima dan meyakini akan keberadaan sebuah makhluk yang bernama malaikat dan para nabi mengetahui akan keberadaan mereka itu. Dalam sistem alam semesta ini mereka memiliki tanggung jawab khusus masing-masing. Di dalam kitab-kitab suci samawi, seperti al-Qur’an, Injil, dan Taurat, mengisyaratkan akan wujud dan keberadaan mereka. Di dalam al-Qur’an terdapat sekitar 88 ayat yang mengisyaratkan akan keberadaan para malaikat tersebut. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa wujud semacam ini merupakan hal pasti dalam agama-agama samawi.

Hal yang bisa digunakan dari ayat dan hadits antara lain adalah:

1. Telah ada sebelum Nabi Adam as. Al-Qur’an mengatakan dalam surat al- Baqarah ayat 30:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

2. Sebagian dari malaikat dipilih sebagai rasul dan utusan. Al-Qur’an mengatakan dalam surat al-Hajj ayat 75:

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.”

3. Para malaikat mengitari arasy Allah swt. Al-Qur’an menyatakan dalam surat az- Zumar ayat 75:

“Dan (pada hari itu) engkau akan melihat malaikat beredar di sekeliling Arasy dengan bertasbih memuji Tuhan mereka…”

4. Mentaati segala perintah Allah swt. Al-Qur’an menyatakan dalam surat al- Anbiyaa ayat 26-27:

“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.”

5. Tidak maksiat. Al-Qur’an menyatakan dalam surat at-Tahriim ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dari hadits-hadits juga dapat digunakan bahwa para malaikat adalah sebuah wujud nurani dan non-materi dan non-jasmani, tidak makan, tidak minum dan tidak menikah, tidak punya bentuk  dan panjang lebar, tidak tidur, tidak lalai dan tidak lupa, keberadaannya tidak atas dasar dilahirkan dan jauh dari segala bentuk maksiat dan dosa. Mengenai ihwal ini, kita memiliki banyak hadits. Sebagian di antaranya adalah:

Imam Ali as, mengenai penciptaan malaikat, berkata:

“Para malaikat yang Engkau ciptakan dan Engkau beri tempat tinggal di atas langit, tidak lupa, lalai dan lemah, tidak berbuat dosa dan tidak durhaka. Mereka lebih mengenal Engkau dari pada makhluk-makhluk lain. Dan mereka lebih takut kepada-Mu dari pada makhluk-makhluk lain dan mereka itu paling dekat kepada Engkau dari pada makhluk lain. Dan mereka lebih mentaati segala perintah-Mu dari pada makhluk lain. Matanya tidak pernah terjangkiti rasa ngantuk, hati-hati mereka tidak pernah lalai, dan badan-badan mereka tidak pernah merasa letih dan lelah.  Mereka tidak tinggal di dalam rahim ibu. Mereka tidak tercipta dari air nutfah (mani) laki-laki”. [20]

Imam Shadiq as ditanya: Apakah malaikat juga makan dan minum serta menikah? Beliau as menjawab: Tidak, akan tetapi mereka hidup mengitari arasy.[21]

Oleh karena itu, malaikat merupakan makhluk non-materi dan non-jasmani, Tidak memiliki bentuk dan rupa sehingga bisa dilihat dan disaksikan oleh indera manusia.

Malaikat Jibril as

Salah satu malaikat terdekat Allah swt adalah malaikat Jibril as. Jibril adalah sebuah kata dan lafaz dari bahasa ibrani, yang berarti pemuda Ilahi, hamba Allah, dan kekuatan Ilahi.[22]

Jibril as adalah malaikat pembawa wahyu yang diutus oleh Allah swt untuk menyampaikan pesan dan wahyu Ilahi kepada nabi. Di dalam kitab al-Muqaddas dan kitab al-Qur’an  berkali-kali disebutkan nama malaikat Jibril as.

Dalam kitab Danial dikatakan: Saya, Danial, bermimpi dan menginginkan makna mimpi tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang serupa dengan laki-laki berdiri dekat saya dan saya mendengar suara seorang manusia dari tengah-tengah sungai dengan berkata: Wahai Jibril beritahukanlah makna mimpi tersebut kepada laki-laki ini.[23]

Di dalam kitab itu pula tertulis: Ketika saya masih sedang berdoa, laki-laki itu (Jibril as) yang saya lihat dalam mimpi, terbang dengan cepat dan datang kepadaku serta berbicara dan berkata: Wahai Danial, sekarang saya datang kepadamu untuk menganugerahimu kecerdasan dan kepahaman.[24] Di dalam Injil Lukas tertulis bahwa: Tiba-tiba malaikat Tuhan berdiri di arah tempat sesembahan dan dia menampakkan diri.[25]

Dalam ayat lain disebutkan bahwa: Malaikat ketika menjawab, berkata: Saya malaikat Jibril yang mana berdiri di hadapan Allah swt dan diutus oleh-Nya supaya saya berbicara dengan anda dan memberi anda ganjaran atas perkara-perkara ini.[26]

Dan pada ayat lain: Pada bulan ke enam Jibril as diutus oleh Allah swt untuk datang ke sebuah negara yang mulia yang bernama Naashirah.[27]

Dalam ayat lain disebutkan: Bahwa ketika malaikat Jibril as menjawab, dia berkata: Ruhulqudus akan datang kepada anda, dan kekuatan Allah swt akan menaungi dan membentengi anda.[28]

Di dalam al-Qur’an juga disebutkan bahwa malaikat pembawa wahyu itu bernama Jibril as:

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (Qs. Al Baqarah ayat 97-98)

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka Sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”  (Qs. At-Tahriim ayat 4)

Di sebagian ayat-ayat, malaikat pembawa wahyu itu diberi nama ruhul qudus:

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur”an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Qs. An Nahl ayat 102)

Dan disebagian ayat lain, malaikat pembawa wahyu itu diberi julukan ruhul amin:

“Dan Sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”  (Qs. Asy Syu’araa’  ayat 192-195)

Turunnya (nuzul) Jibril as

Dari pembicaraan yang lalu, kita dapat mengambil manfaat bahwa Jibril as merupakan malaikat pembawa wahyu yang turun kepada nabi dan menyampaikan pesan-pesan Ilahi. Dikatakan bahwa para malaikat tersebut adalah non-fisik dan non-jasmani yang mana ketika dia turun maka akan nampak dan kelihatan. Mereka tidak memiliki lidah dan mulut untuk berkata-kata sehingga perkataannya bisa didengar. Lalu apa makna nuzul  (turun) dan kalam (perkataan) bagi Jibril as dan seperti apa bentuknya? Jawabannya: dikatakan bahwa nuzul bagi Jibril as adalah turun secara non-fisik dan non-place (tidak menggunakan tempat), akan tetapi dalam bentuk menyerupai atau menjelma (tamatstsul ) sesuatu.

Tentang ihwal malaikat yang turun kepada Maryam Al-Muqaddas, al-Qur’an menggunakan istilah tamatstsul (menyerupai):

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Qur’an. Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya. Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (Qs. Maryam ayat 16-19)

Di dalam beberapa hadits juga menggunakan istilah yang sama, yaitu tamatstsul  ketika menjelaskan ihwal turunnya Jibril as.

Bahkan dalam hal lain juga terkadang istilah tamatstsul  ini digunakan, seperti tamatstsul  harta, anak-anak dan perbuatan-perbuatan manusia ketika sedang sekarat, dan seperti tamatstsul  Nabi saw dan para Imam Maksum as untuk sebagian manusia ketika sedang menghadapi kematian. Dan seperti tamatstsul dunia yang menyerupai seorang wanita cantik bagi Imam Ali as. Dan seperti tamatstsul  malaikat maut bagi manusia untuk mencabut ruhnya, dan seperti tamatstsul  setan bagi sebagian orang. Tamatstsul-tamatstsul  seperti ini banyak ditemukan dalam hadits-hadits, diantaranya:

Imam Ali as berkata: “Ketika manusia menemui hari akhir baginya di dunia ini dan memasuki hari pertama pada hari kiamat, maka harta dan amal perbuatannya akan ber-tamatstsul (menjelma sesuatu) baginya.” [29]

Dari Imam Shadiq as dari bapak-bapaknya dan dari Amirul mukminin Ali as, bahwa beliau berkata: “Suatu ketika saya sedang sibuk mencangkul di sebagian tanah pertanian Fadak, yang mana setelah itu menjadi milik sayyidah Fathimah as, tiba-tiba muncul di depanku seorang wanita cantik. Sangat cantik dan menarik serta menawan.  Menyerupai Batsinah binti Amir Al Jumhaa, wanita tercantik kaum Quraisy. Wanita itu berkata kepadaku: kalau kamu menikan denganku, maka aku akan membuatmu tidak perlu bekerja lagi, dan aku akan menunjukkan kepada kamu seluruh harta karun yang ada di dalam perut bumi ini, dan selama hidup kamu akan menjadi penguasa. Saya berkata: kamu ini siapa sehingga saya bisa datang ke keluargamu untuk melamar? Dia menjawab: saya adalah dunia. Saya berkata: pergilah dan carilah calon suami selain aku! Kamu tidak layak dan tidak se-kufu’ denganku, setelah berkata seperti ini, saya pun kembali sibuk dengan pekerjaanku.” [30]

Dalam buku-buku sejarah dan hadits dikisahkan bahwa Jibril as paling sering menampakkan dirinya dengan menyerupai Dahiyah kalabi, seorang pemuda yang gagah dan tampan, dan kadang dalam bentuk manusia-manusia lain dan turun kepada Nabi saw. Oleh karena itu, nuzul-nya Jibril as itu harus ditafsirkan dengan penyerupaan dia itu sebagai manusia khusus yang sesuai dengan idrak (persepsi) dan dzihni Nabi saw. Penjelmaan Jibril as menjadi seorang manusia khusus ketika menjumpai Nabi saw tidak bermakna bahwa hakikat kemalaikatannya itu telah hilang dan menjadi manusia lalu turun dan menemui Nabi saw.

Allamah Thabatabai Qs, mengenai ihwal ini, menuliskan: Makna tamatstsul malaikat ketika turun kepada hadhrat Maryam as adalah penjelmaan dan penyerupaannya dengan rupa manusia ketika menemui Maryam as. Dan tidak bermakna bahwa secara hakikat malaikat tersebut berubah menjadi manusia. Jibril as –sesuai kapasitas akal dan persepsi hadhrat Maryam as – menjelma di hadapannya dengan rupa seorang manusia, bukan dalam bentuknya yang asli dan hakiki. Hadhrat Maryam lah yang menyaksikan Jibril as berbentuk seperti ini, bukan Jibril as yang betul-betul berubah menjadi manusia.”  [31]

Dalam menjelaskan pokok bahasan ini, maka dapat dikatakan bahwa Jibril as adalah sebuah maujud  atau makhluk yang memiliki nurani dan non-materi yang mana mengemban sebagian ilmu-ilmu Ilahi dan siap untuk disebarkan dan sampaikan. Ruh suci dan penuh cahaya Nabi saw, yang mana jauh dari kecenderungan-kecenderungan jasmani dan nafsu, juga ketika atensinya itu ditujukan kepada alam yang lebih tinggi, maka sebagian hakikat ilmu yang ada dalam esensi dan dzat Jibril as akan tergambar dan nampak di dalam hati beliau saw, dan inilah yang dimaksud wahyu. Pada tahapan ini, wahyu tidak lain adalah bermakna penuangan dan penganugerahan berbagai ilmu pengetahuan, bukan dalam suatu bentuk dan bukan pula sebuah kalam dan perkataan.

Bentuk atau forma dan kalam muncul pada tahapan imajinasi dan indera musytarak. Ketika hakikat-hakikat berbagai ilmu pengetahuan turun dari qalb (hati) dan ruh Nabi saw menuju ke arah daya imajinasi dan indera musytarak beliau saw, maka pada ketika itu Jibril as muncul di hadapan Nabi saw dalam bentuk seorang laki-laki gagah dan tampan dan kemuidan berdialog dengan beliau saw. Karena tahapan imajinasi dan indera  musytarak merupakan tahapan membentuk sebuah rupa.

Nabi saw lah, yang mana sesuai dengan kapasitas imajinasi dan akal pikirannya, yang menyaksikan Jibril as dalam bentuk seorang manusia yang gagah dan tampan dan mendengar pembicaraannya. Akan tetapi, orang lain yang bahkan berada bersama Nabi saw tidak memiliki penyaksian (musyahadah) seperti ini. Kecuali orang-orang yang jiwanya berada di bawah pengawasan Nabi saw dan dipersiapkan untuk menangkap dan memahami hal-hal seperti ini.

Akan tetapi jangan sekali-kali anda beranggapan kami ingin mengatakan bahwa menyaksikan dan mendengarkan ucapan dan kalam Jibril as merupakan perkara dan nasihat kosong belaka dan bertentangan dengan realitas, sungguh kami tidak mengatakan hal yang seperti ini, akan tetapi yang kami katakan adalah: Sungguh Nabi saw menyaksikan malaikat itu dalam bentuk seorang pemuda yang gagah dan tampan dan sungguh beliau saw mendengar kalam dan perkataannya akan tetapi ini semua ada di alam yang disebut alam mitsal.

Manifestasi Jibril as dalam bentuk seorang manusia gagah dan tampan dan musyahadah (penyaksian) Nabi saw merupakan sebuah realitas yang nyata, akan tetapi hal ini berada pada alam mitsal. Tentunya penyaksian dan sense ini dengan penyaksian dan sense terhadap hal-hal yang bersifat eksternal memiliki perbedaan yang sangat fundamental. Di sana kita tidak bisa menyaksikan wujud eksternal itu dengan mata kepala. Akan tetapi yang disaksikan dan diketahui secara ashalah an nafs (kesejatian jiwa) adalah bentuk maujud dan keberadaan pada kesadaran imajinatif. Demikian pula halnya dalam penyaksian malaikat, dengan perbedaan bahwa pada penyaksian-penyaksian rasa (sense)  bentuk maujud pada indera musytarak dan imajinasi adalah dengan wasilah indera, berbeda dengan wahyu dan rupa Jibril as, yaitu dimana hati Nabi saw turun ke daya imajinasi beliau saw. Akan tetapi pada kedua kondisi tersebut ma’lum bil ashalah (kesejatian pengetahuan) adalah wujud khiyali  itulah. [www.wisdoms4all.com]


[1] . Al-Mizan, Jld. 15, Hal. 345.

[2] . Ruhul Bayan, Jld. 6, Hal. 306.

[3] . Al-Mizan, Jld. 15, Hal. 159.

[4] . Ibid, Hal. 160.

[5] . Al-Mizan, Jld. 19, Hal. 26.

[6] . Jami’ul Ushul, Jld. 11, Hal. 281; Manaqib Ibnu Syahr Asyub, Jld .1, Hal. 43.

[7] . Al-Itqan fii Ulumil Quran, Jld. 1, Hal. 95.

[8] . Bihârul Anwâr, Jld. 11, Hal. 53.

[9] . Bihârul Anwâr, Jld. 11, Hal. 54.

[10] . Assiirah al-Halabiyah, Jld. 1, Hal. 256.

[11] . Ibid.

[12] . Biharul Anwar, Jld. 61, Hal. 181.

[13] . Biharul Anwar, Jld. 11, Hal. 55.

[14] . Al-Mizan, Jld. 18, Hal. 75, surat al-Buruj ayat 20.

[15] . Biharul Anwar, Jld. 18, Hal. 260.

[16] . Ibid, Hal. 256.

[17] . Ibid, Hal. 247.

[18] . Biharul Anwar, Jld.56, Hal. 259.

[19] . Al-Mizan, Jld. 14, Hal. 149.

[20] . Biharul Anwar, Jld. 59, Hal. 175.

[21] . Biharul Anwar, Jld. 59, Hal. 193.

[22] . Kamus Dah-khuda.

[23] . Bab 8, ayat 15.

[24] . Bab 9, ayat 21.

[25] . Bab 1, ayat 11.

[26] . Bab 1, ayat 20.

[27] . Bab 1, ayat 26.

[28] . Bab 1, ayat 35.

[29]. Al-Kafi, Jld. 3, Hal. 231.

[30] .Biharul Anwar, Jld. 73, Hal. 84.

[31] . Al-Mizan, Jld. 14, Hal. 36.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: